Type to search

Pengembangan Diri

Mengenal Jenis-jenis Kekerasan Verbal, Dampak & Cara Mengatasinya

Jenis kekerasan verbal, dampak dan cara mengatasi kekerasan verbal

Kekerasan verbal adalah bentuk kekerasan yang menggunakan kata-kata atau bahasa yang merendahkan, menyakitkan, atau mengancam seseorang secara verbal. Karena tindak kekerasan ini menggunakan kekuatan lisan, sering juga kita menyebutnya sebagai tindak kekerasan lisan.

Tindak kekerasan ini bisa terjadi di berbagai situasi, mulai dari rumah tangga, tempat kerja, sekolah, hingga tempat umum.  Meskipun tidak meninggalkan luka fisik yang terlihat, kekerasan ini bisa sangat merusak dan berdampak pada kesehatan mental seseorang.

Jenis Kekerasan Verbal dan Dampaknya

Kekerasan verbal mungkin tidak kasat mata dan tidak meninggalkan bekas secara langsung. Namun justru ini yang menjadi bahaya sesungguhnya.

Karena tidak meninggalkan bekas secara langsung, banyak yang tidak sadar telah menjadi pelaku atas tindak kekerasan ini. Sang korban sering merasa ciut mengungkapkan kebenaran karena yang langsung terkena adalah mentalnya.

Berikut adalah beberapa jenis kekerasan verbal dan dampaknya:

1. Merendahkan (Insults)

Jenis kekerasan verbal yang pertama adalah merendahkan. Merendahkan melibatkan penggunaan kata- kata kasar, dan hinaanterhadap seseorang.

Tindakan ini sering dilakukan sebagai upaya untuk merendahkan harga diri dan menghancurkan kepercayaan diri korban. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kalau pelaku lebih superior dan membuat korban merasa kecil.

Contoh dari tindakan ini misalnya, “Masa’ kamu gitu aja nggak bisa sih. Lihat nih aku, ngerjain kayak gini nggak sampai satu jam.”

2. Ancaman (Threats)

Ancaman adalah bentuk kekerasan lisan yang melibatkan ancaman terhadap seseorang atau sesuatu yang penting baginya. Itu bisa berarti keluarga, teman, pekerjaan, atau kesejahteraan.

Ancaman bisa menyebabkan rasa takut dan cemas pada korban, bahkan jika tidak ada tindakan nyata yang diambil oleh pelaku. Dalam beberapa kasus, ancaman bisa memicu trauma psikologis dan menimbulkan masalah kesehatan mental yang serius.

Jenis kekerasan verbal yang bermulai dari ancaman ini kerap berlanjut ke kekerasan fisik. Untuk itu, kita perlu waspada terhadap jenis kekerasan ini. Cobalah untuk meminta bantuan kepada orang terdekat jika merasa ancaman ini serius dan tidak bisa ditangani sendiri.

Contoh dari ancaman ini misalnya, “jika kamu tidak menuruti saya, jangan salahkan saya kalau nanti kamu dipecat dari pekerjaan.”

3. Menyalahkan (Blaming)

Bentuk kekerasan lisan selanjutnya adalah tindakan suka menyalahkan seseorang atas masalah atau kesalahan yang terjadi. Kesalahan memang berarti sebuah kesalahan. Tapi kenyataannya, berbuat salah adalah hal yang manusiawi.

Kendati begitu, beberapa orang melakukan kekerasan lisan atas kesalahan seseorang sebagai pembenaran atas tindakan mereka. Misalnya dengan berkata, “Kamu itu pantas dimaki- maki karena perilakumu memang tidak bisa ditolerir lagi.”

Menyalahkan bisa menyebabkan seseorang merasa tidak dihargai atau diperlakukan secara adil. Selain itu, hal ini juga berpotensi memperburuk masalah yang sudah ada.

Baca Juga :  Waspada, Ini 9 Tanda Kamu Mengalami Kecemasan Akibat Media Sosial

4. Name-calling

Jenis kekerasan verbal selanjutnya adalah name-calling. Name-calling berarti memberikan nama, label atau sebutan yang bisa meremehkan atau merendahkan seseorang.

Berkat name-calling ini, seseorang biasa merasa tidak dihargai dan merasa rendah diri. Dalam jangka panjang, tindakan ini juga memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

5. Pengabaian (Neglect)

Pengabaian merupakan bentuk kekerasan verbal yang melibatkan mengabaikan atau menghindari seseorang secara sengaja. Tindakan ini membuat seseorang merasa tidak berharga dan keberadaannya tidak diakui oleh orang lain.

Orang yang sering mendapat perlakuan ini juga akan meningkatkan resiko kesehatan mental seperti kesepian dan depresi.

6. Menyudutkan (Degradasi)

Dalam tindak kekerasan ini, degradasi adalah situasi dimana pelaku kekerasan menyudutkan korbannya agar si korban merasa buruk, tidak berguna dan merasa bersalah. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memainkan pola kata- kata, memutarbalikkan fakta, hingga membesar- besarkan masalah.

Contoh tindakan ini adalah misalnya dengan berkata, “Kalau saja kamu nggak bikin kekacauan ini, kita pasti sudah sampai dari tadi.”

7. Manipulasi

Istilah manipulasi tentu bukan hal yang asing lagi. Manipulasi berarti perilaku untuk mengontrol, mengeksploitasi, dan mempengaruhi orang lain. Cara yang pelaku gunakan biasanya dengan melakukan penambahan, pengurangan atau pengaburan informasi.

8. Kritik Berkelanjutan

Kritik adalah bagian penting dalam proses menuju dewasa. Kendati begitu, kritik sejatinya disampaikan secara positif. Agar maksud dari kritik itu tersampaikan dengan baik untuk perbaikan.

Namun dalam lingkup kekerasan verbal, kritik dilakukan dengan sangat kasar dan secara terus menerus. Akibatnya, korban akan merasa harga dirinya seolah- olah runtuh dan merasa semua yang ia lakukan tak berarti.

Hal ini justru berbahaya karena membuat korban merasa tidak ada hal baik yang bisa ditingkatkan.

9. Menuduh Tanpa Bukti

Tuduhan bisa menyakitkan, terutama saat disampaikan dengan cara yang tidak tepat. Yaitu dengan teriakan, dilakukan di depan orang, dan bahkan tanpa bukti yang jelas.

Menuduh bisa menjatuhkan mental seseorang, dan lebih jauh lagi, ini juga bisa meruntuhkan martabat seseorang.

10. Diam dan Menolak Berbicara

Bahkan tidak berkata apa- apa juga bisa menjadi bentuk kekerasan verbal. Terutama jika ini dilakukan dengan motif agar korban merasa tidak enak.

Misalnya saat kita bertengkar dengan pasangan. Pasangan memilih diam dan pergi saat kalian sedang membutuhkan solusi dari perdebatan.

Baca Juga :  10+ Tips Memilih Universitas/ Kampus Usai Lulus SMA SMK

Dampak Seseorang Mengalami Kekerasan Verbal

Apakah kamu sering mendapat perlakuan di atas? Atau kamu merasa seseorang bertindak kelewat batas kepadamu?

Jika iya, kamu punya tugas untuk segera keluar dari situasi ini.
Karena jika tidak, kamu akan terus terjebak dan mengalami dampak berikut ini :

1. Kamu selalu merasa kalah

Tidak peduli seberapa hati-hati atau baiknya kamu mencoba menyelesaikan masalah, pasangan kamu mengatakan hal-hal yang membuatmu merasa kalau kamu lah penyebab semua masalah. Kamu lah yang bertanggungjawab atas situasi kalian yang tidak baik- baik saja.

Cobalah untuk mendiskusikan ini dengan pelaku. Bahwa masalah kalian perlu dibicarakan dan dicari jalan keluarnya. Katakan kalau tidak bisa terus seperti ini. Jika ia terus menghindar atau mengalihkan perhatian, ajak orang lain untuk turut menengahi.

2. Merasa harga diri dan kepercayaan diri menjadi rendah

Studi menunjukkan anak yang kerap mendapat kekerasan verbal dapat berkembang menjadi pribadi dengan kepercayaan diri rendah. Cara pandang terhadap diri, lingkungan, dan dunia juga akan menjadi buruk.

3. Perasaan tertekan saat diskusi

Saat kamu berkata jujur kalau dia melukai perasaanmu dan dia justru mengatakan kalau kamu terlalu sensitif. Lambat laun situasi ini membuat kamu tertekan setiap kalian berdiskusi tentang satu hal.

Karena rasanya percuma saat kamu menyebut dia mengatakan sesuatu yang tidak pantas, ia justru berusaha membuatmu terlihat buruk. Dan entah bagaimana, pelaku selalu berhasil meyakinkan kamu kalau apa pun yang salah adalah kesalahanmu.

4. Kamu Mudah Merasa Takut dan Malu

Seseorang yang mendapat kekerasan verbal akan merasa bahwa dirinya diselimuti dengan rasa takut dan malu. Para korban ingin menjauh dan keluar dari situasi ini, sejauh yang mereka bisa.

5. Kemungkinan Meningkat menjadi Pertengkaran Fisik

Kekerasan lisan memang tidak bisa kita remehkan. Faktanya, banyak kekerasan verbal yang tidak terselesaikan dengan baik akhirnya berlanjut ke agresi fisik. Tentunya kamu perlu lebih berhati- hati lagi.

6. Penurunan Nilai Akademis

Kekerasan verbal yang terjadi secara berkelanjutan akan berdampak pada menurunnya tingkat konsentrasi seseorang. Ini bisa berimbas pada menurunnya performa di sekolah yang terlihat dari turunnya nilai akademis.

7. Terjebak dalam Hubungan Tidak Sehat

Karena serentetan dampak di atas, korban kekerasan lisan juga cenderung terjebak dalam hubungan tidak sehat, alias toxic relationship. Lebih buruk lagi, kamu merasa baik- baik saja dalam hubungan ini karena berpikir pantas mendapatkannya.

Cara Mengatasi dan Mencegah Kekerasan Verbal

Pendidikan Anti Kekerasan Verbal

Berat sekali memang rasanya saat menjadi korban dari tindak kekerasan ini, terutama dalam jangka panjang. Kendati begitu, ada beberapa hal yang bisa kamu coba untuk mengatasi dan mencegah kekerasan verbal ini : 

Baca Juga :  7 Langkah Menghadapi Ambivert dan Menjalin Hubungan dengan Mereka

1. Komunikasi yang efektif

Komunikasi yang efektif bisa mencegah dan mengatasi tindak kekerasan ini. Hindari menggunakan bahasa yang merendahkan, menuduh, atau menghina orang lain dalam komunikasi sehari-hari.

Berbicaralah dengan sopan dan jelas, dan dengarkan dengan teliti ketika orang lain berbicara. Dengan memulai sikap positif dari diri sendiri, kita akan cenderung menarik komunikasi yang positif dari orang lain juga.

2. Menghindari Situasi yang Berpotensi Menimbulkan Kekerasan Verbal

Menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan perdebatan dan kekerasan lisan bisa membantu mencegah kekerasan verbal.

Kalau kamu mengetahui situasi tertentu cenderung memicu tindakan kekerasan verbal, hindari situasi tersebut. Atau bisa juga, usahakan untuk mengubahnya agar lebih damai dan produktif.

3. Berbicara dengan Jujur dan Sopan

Berbicara dengan jujur dan sopan bisa membantu mengatasi kekerasan verbal. Jika kamu merasa bahwa seseorang sedang melakukan kekerasan lisan, berbicaralah dengan jujur dan sopan.

Berikan respons yang tepat, tetapi jangan membalas kekerasan verbal dengan kekerasan serupa. Ini bisa membuat situasi menjadi lebih runyam.

4. Ketahui yang Menjadi Hak

Mengetahui hak bisa membantu mencegah dan mengatasi kekerasan verbal. Jangan biarkan orang lain merendahkan atau menghinamu secara verbal. Ingatlah bahwa kamu berhak diperlakukan dengan baik dan dihormati oleh orang lain.

5. Mencari bantuan profesional

Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami masalah kekerasan verbal, mencari bantuan profesional bisa sangat membantu. Terapi atau konseling bisa membantu memahami masalahmu, mengatasi dampak kekerasan verbal, dan membantu meningkatkan kesehatan mental.

Kesimpulan

Kekerasan verbal bisa merusak kesehatan mental seseorang dan menyebabkan berbagai masalah seperti depresi, kecemasan, dan trauma psikologis. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengenali jenis-jenis kekerasan verbal dan upaya yang bisa kita lakukan untuk mencegah atau mengatasi kekerasan verbal.

Komunikasi yang efektif, menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan verbal, berbicara dengan jujur dan sopan, mengetahui hak Anda, dan mencari bantuan profesional adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengatasi kekerasan verbal.

Ingatlah bahwa kita semua berhak diperlakukan dengan baik dan dihormati

Comments

comments

Tags:

You Might also Like

0 Shares
Share via
Copy link
Powered by Social Snap