Type to search

Perlu Tahu

Apa itu Victim Blaming, Dampak dan Cara Menghentikan

Apa itu Victim Blaming, Dampak dan Cara Menghentikan

Victim blaming mungkin bukan istilah yang familiar untuk banyak orang. Sebagian dari kita mungkin lebih mengenal kata ‘playing victim’ yang sering terlontar saat sedang ngobrol dengan teman, terutama dalam bahasa gaul.

Istilah victim blaming sendiri sering muncul saat kita bicara tentang sebuah kasus yang sedang hits di media sosial. Misalnya saat kita membicarakan kasus pelecehan yang terjadi di KRL.

Dalam pembicaraan tersebut, tidak jarang ada nyeletuk bahwa ini bisa terjadi karena korban mengenakan pakaian yang cenderung mengundang. Kenyataannya, pelecehan tidak selalu berkaitan dengan pakaian yang seronok. Bahkan mereka yang berpakaian sopan pun kerap menjadi korban pelecehan.

Nah, tindakan yang tanpa sadar menyudutkan dan menyalahkan korban ini lah yang kita sebut dengan victim blaming.

Apa itu Victim Blaming?

Victim blaming adalah tindakan menyalahkan atau mengkritik korban atas kejahatan atau kekerasan yang menimpanya. Biasanya, hal ini terlihat dari perilaku yang menyudutkan dan menempatkan tanggung jawab pada korban, alih-alih pada pelaku kejahatan itu sendiri.

Victim blaming seringkali terjadi pada kasus-kasus seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, dan tindak kriminal lainnya.

Ciri-ciri victim blaming antara lain menyalahkan korban atas pakaian, perilaku, atau keputusan yang mereka ambil. Pelaku tindakan ini biasanya menyarankan korban seharusnya bertindak atau bereaksi dengan cara tertentu untuk menghindari kejadian tersebut, dan meremehkan situasi korban.

Contoh Perilaku Victim Blaming

Victim blaming dapat terjadi dalam berbagai situasi dan konteks. Berikut adalah beberapa contoh nyata yang sering terjadi di masyarakat:

1. Kasus Kekerasan Seksual

Salah satu contoh victim blaming yang paling umum adalah dalam kasus kekerasan seksual. Dalam tindak kejahatan ini, tidak jarang beberapa orang menyalahkan korban atas pakaian dan situasi korban. Misalnya, korban dipersalahkan karena berjalan sendirian di malam hari, mengonsumsi alkohol, atau berpakaian terbuka.

2. Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

Dalam kasus KDRT, beberapa orang menyalahkan korban karena adanya kemungkinan korban memicu amarah pasangannya. Misalnya, tudingan bahwa korban tidak melayani suami dengan baik, membantah, atau tidak mengurus rumah tangga dengan semestinya.

Baca Juga :  Waspada! Ini 7 Tanda Kamu Konsumsi Terlalu Banyak Kafein

3. Kasus Pelecehan di Tempat Kerja

Di lingkungan kerja toxic, korban pelecehan justru menjadi bahan olokan karena penampilannya yang disebut “menggoda” pelaku. Pakaian yang terlalu seksi dan sikap yang terlalu ramah justru menjadi alasan untuk menganggap korban sedang mencari perhatian.

4. Kasus Bullying di Sekolah

Dalam kasus bullying di sekolah, beberapa orang kerap menganggap korban pantas mendapat bullying karena penampilan, latar belakang, atau kepribadiannya yang “aneh” atau “berbeda” dari yang lain. Korban dituduh terlalu pemalu, tidak bisa bergaul, atau bahkan dianggap memancing kejahatan dengan sikap dan penampilannya.


Selain di dunia nyata, tindakan menyalahkan korban juga kerap terjadi di ranah media sosial. Komentar-komentar menyudutkan dan menyalahkan korban kerap muncul dalam postingan atau berita terkait kasus-kasus di atas.

Penyebab Seseorang Melakukan Victim Blaming

Apa sih yang membuat seseorang berperilaku menyalahkan korban? Ternyata ada beberapa faktor yang bisa menjadi pemicunya, antara lain : 

1. Faktor Budaya

Budaya patriarki yang mengakar kuat dalam masyarakat kerap menjadi penyebab utama terjadinya victim blaming. Dalam budaya ini, perempuan seringkali dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pelecehan atau kekerasan yang mereka alami. Stereotip gender ini juga membatasi peran dan hak perempuan, serta mengagung- agungkan sosok pria dalam budaya.

2. Bias Kognitif

Bias kognitif, seperti bias konfirmasi dan bias retrospektif, dapat mempengaruhi cara seseorang memandang suatu situasi. Individu cenderung mencari informasi yang mendukung kepercayaan awal mereka dan mengabaikan bukti yang bertentangan. Alhasil, mereka cenderung menyalahkan korban atas kejadian yang menimpanya.

3. Kurangnya Empati

Kurangnya empati terhadap korban juga dapat menjadi faktor penyebab victim blaming. Ketidakmampuan untuk memahami dan merasakan penderitaan yang korban alami dapat membuat seseorang mengabaikan keadaan korban dan lebih memilih untuk menyalahkannya.

4. Pola Pikir Tradisional

Pola pikir tradisional yang masih kuat di beberapa kalangan masyarakat dapat mendorong terjadinya victim blaming. Pandangan bahwa perempuan harus patuh dan tunduk pada laki-laki, atau bahwa korban bertanggung jawab atas tindakan pelaku, merupakan contoh pola pikir tradisional yang dapat menyebabkan victim blaming.

Dampak Victim Blaming pada Korban

Victim blaming dapat memiliki dampak yang signifikan pada korban, baik secara psikologis, sosial, maupun pada kesehatan mental mereka. Salah satu dampak yang paling menonjol adalah trauma berkepanjangan yang menyebabkan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Korban juga seringkali merasa bersalah, malu, dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka, meskipun sebenarnya mereka tidak bersalah sama sekali. Perasaan ini dapat memicu tanda depresi, kecemasan, rendah diri, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri.

Tidak berhenti sampai di situ. Victim blaming juga berdampak pada kehidupan sosial korban. Mereka mungkin merasa terisolasi, dikucilkan, atau tidak dipercaya oleh lingkungan sekitarnya. Hal ini mendorong korban kehilangan dukungan sosial yang sangat mereka butuhkan untuk proses pemulihan. Stigma dan diskriminasi yang mereka alami akan menghambat mereka untuk mencari bantuan atau melaporkan kejadian yang mereka alami.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah dampak pada kesehatan mental korban. Trauma yang dialami dapat memicu gangguan kecemasan, gangguan mood, gangguan makan, atau bahkan gangguan kepribadian. Korban juga berisiko mengalami flashback, mimpi buruk, dan kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal. Kondisi ini dapat memperparah penderitaan mereka dan menghambat proses penyembuhan.

Dalam beberapa kasus, dampak victim blaming dapat berlangsung dalam jangka panjang dan menjadi trauma yang berkepanjangan. Korban mungkin terus merasa tidak aman, tidak berdaya, dan hidup dalam ketakutan yang konstan. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka secara keseluruhan, termasuk kemampuan untuk bekerja, menjalin hubungan, dan mencapai tujuan hidup mereka.

Baca Juga :  Mengenal Gelotophobia: Rasa Takut Akan Tertawaan dan Cara Mengatasinya

Cara Menghentikan Victim Blaming

Victim blaming harus segera dihentikan. Saat seseorang mengalami perundungan atau pelecehan, maka langkah pertama yang kita lakukan adalah berada di sisi mereka dan membuat mereka merasa aman. Bukan sebaliknya.

Berikut adalah beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk menghentikan perilaku menyalahkan korban ini :

1. Edukasi Publik

Tindakan menyalahkan korban seringkali terjadi karena kurangnya pemahaman dan empati terhadap korban. Oleh karena itu, edukasi publik sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya victim blaming dan dampaknya yang merugikan. Kampanye edukasi dapat berjalan melalui seminar, lokakarya, atau program-program di sekolah dan komunitas.

2. Kuatkan Empati

Membangun rasa empati terhadap korban adalah kunci untuk menghentikan perilaku menyalahkan korban. Kita perlu mengajak masyarakat untuk menempatkan diri pada posisi korban dan memahami penderitaan yang korban alami. Berbagi kisah dan pengalaman korban dapat membantu meningkatkan empati dan menghapus stigma yang ada.

3. Kebijakan Anti-Victim Blaming

Pemerintah dan lembaga terkait perlu membuat kebijakan yang tegas untuk mencegah dan menghukum pelaku victim blaming. Kebijakan ini harus mencakup perlindungan bagi korban, tindakan disipliner bagi pelaku, dan program-program untuk mengubah budaya yang mendukung perilaku ini.

4. Pendampingan Terhadap Korban

Korban victim blaming seringkali mengalami trauma dan membutuhkan dukungan untuk pulih. Layanan pendampingan seperti konseling, terapi, dan dukungan hukum sangat penting untuk membantu korban mengatasi dampak negatif yang mereka alami. Pendampingan ini juga dapat membantu korban untuk berbagi pengalaman dan menjadi bagian dari gerakan melawan victim blaming.

Baca Juga :  Hati- hati, 9 Merek Pembalut di Indonesia Ini Ternyata Mengandung Zat Berbahaya “Klorin”

Kesimpulan

Victim blaming merupakan tindakan yang merugikan dan dapat menimbulkan trauma bagi korban. Hal ini terjadi akibat kurangnya empati, bias kognitif, dan budaya patriarki yang masih melekat dalam masyarakat. Dampak dari perilaku ini sangat membahayakan, baik secara psikologis maupun sosial. Korban dapat mengalami depresi, rasa bersalah, malu, hingga enggan melaporkan kasusnya.

Untuk mengakhiri praktik menyalahkan korban, perlu upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu membuat regulasi yang tegas mengenai perlindungan korban dan mengedukasi masyarakat. Institusi pendidikan juga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan sejak dini. Sementara itu, media massa harus lebih berhati-hati dalam pemberitaan agar tidak menyudutkan korban.

Pada level individu, kita semua dapat berkontribusi dengan menumbuhkan empati dan kepekaan terhadap kondisi korban. Jangan pernah menyalahkan atau mempertanyakan tindakan korban. Berikan dukungan dan dengarkan cerita mereka dengan terbuka. Sadari bahwa tidak ada satu pun korban yang menginginkan situasi tersebut terjadi. Dengan saling menghargai dan menghormati, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi semua orang.

Comments

comments

Tags:

You Might also Like

0 Shares
Share via
Copy link
Powered by Social Snap